Puisi: Kasih yang Abadi
Ibu... kata yang sederhana, namun mengandung semesta kasih. Engkau adalah pelita dalam kegelapan malamku, pelukan hangat yang tak pernah pudar oleh waktu, sosok yang rela berkorban tanpa menghitung untung rugi.
Aku masih ingat, betapa sering engkau terjaga di malam yang sunyi, menemani demamku, mengusap keringat di keningku, nyanyian lembutmu menjadi pengantar tidurku, doa-doa yang engkau panjatkan dalam diam menjagaku.
Tanganmu yang kasar karena kerasnya kehidupan, adalah tangan terlembut yang pernah aku rasakan. Setiap kerutan di wajahmu adalah cerita perjuangan, setiap uban di rambutmu adalah saksi pengabdian.
Engkau mengajarkanku melangkah saat aku jatuh, menemaniku menangis saat aku sedih, tersenyum saat aku berhasil, meski lelahmu membelenggu. Ibu... engkau adalah malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan untukku.
Kadang aku membuatmu meneteskan air mata, kata-kata kasarku, kebandelanku, semua kesalahanku. Namun engkau tetap tersenyum, memaafkan tanpa syarat, kasihmu tak bertepi, seperti samudra yang tak berpinggiran.
Kini aku tahu, tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan, tidak ada hadiah yang mampu membalas segalanya. Yang bisa kuberikan hanyalah cinta dan doa, semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan surga-Nya.
Terima kasih Ibu... untuk setiap nafas yang engkau berikan, untuk setiap langkah yang engkau dampingi, untuk setiap air mata yang engkau hapus, untuk setiap mimpi yang engkau wujudkan.
Aku mencintaimu, melebihi kata-kata yang mampu terucap, melebihi waktu yang terus berputar, melebihi apapun di dunia ini... Karena engkau adalah ibuku, permata tak ternilai harganya.